Amerika Pelanggar HAM; Pengabaian Hak Tahanan

Standar

Salah satu contoh nyata dari pelanggaran hak asasi manusia di Amerika Serikat adalah kondisi penjara di negara itu yang tidak layak bahkan menyedihkan. Sebagai negara yang ikut menandatangani piagam dunia terkait hak asasi manusia dan perjanjian-perjanjian internasional lainnya, pemerintah AS berkewajiban untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi sel-sel tahanan dan penjara. Namun, meski menempati urutan tertinggi di dunia dalam hal jumlah tahanan, AS tidak melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak para tahanan dengan baik. Dari tahun 1980 jumlah tahanan di penjara-penjara AS meningkat berkali lipat dari 500 ribu orang menjadi dua juta 300 ribu orang. Angka yang fantastis ini adalah yang tertinggi di dunia. Menurut catatan resmi, dari seratus orang di AS, satu orang mendekam di penjara. Data lainnya menyebutnya, dari 28 ayah anak-anak di AS, satu orang menjalani kehidupannya di dalam sel tahanan.

 

Tanggal 19 Januari 2010, departemen kehakiman AS merilis statemen yang dimuat di situs Menez News Daily yang mengungkapkan bahwa jumlah penjara yang ada tidak mampu menampung seluruh tahanan yang berjumlah lebih dari dua juta orang. Dalam sebuah laporan resmi disebutkan bahwa antara tahun 2000 hingga 2008, jumlah tahanan yang mendekam di penjara AS setiap tahunnya meningkat 1,8 persen.

 

Kondisi seperti yang dijelaskan tadi dan jumlah tahanan yang besar, tentunya menimbulkan masalah yang serius bagi penanganan para terhukum. Dengan alasan itu, di beberapa negara bagian, pemerintah terpaksa menahan sebagian terhukum di luar penjara atau di rumah-rumah tahanan non permanen. Terkadang, pemerintah juga menempuh cara dan mengambul kebijakan yang lain. Misalnya, Gubernur California beberapa waktu lalu memutuskan untuk memulangkan imigran-imigran gelap ke Meksiko yang sudah ditangkap demi mengurangi jumlah tahanan.

 

Seiring dengan itu, berbagai laporan membongkar adanya praktik penyiksaan, pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap para tahanan yang dilakukan oleh para sipir penjara. Setiap tahunnya tujuh ribu orang dilaporkan meninggal dunia di dalam penjara, yang sebagian besarnya adalah kasus pembunuhan dan bunuh diri. Sebagai contoh, setiap hari sipir penjara menggunakan alat sengat listrik terhadap para tahanan. Sejak tahun 2001 sampai saat ini, sekitar 230 warga AS tewas di penjara karena senjata itu. Sementara, Lembaga Amnesti Internasional tahun 2008 melaporkan bahwa petugas penjara di AS biasa menggunakan senjata penyengat listrik untuk mengntrol para tahanan. Semua yang disebutkan itu menunjukkan besarnya pelanggaran HAM yang terjadi di penjara-penjara AS. Tanggal 7 April 2009, Washington Post memuat laporan yang menyatakan bahwa pelecehan seksual dan perkosaan adalah kasus pelanggaran HAM yang paling besar di penjara AS.

 

Pelanggaran HAM yang terjadi secara terbuka di penjara-penjara AS telah melahirkan reaksi keras dari lembaga-lembaga dunia. Di sidang dewan HAM PBB tahun 2009 yang digelar untuk memberikan perlindungan HAM dan hak umum masyarakat dunia, salah seorang pelapor PBB menuduh AS telah melakukan pelanggaran HAM dalam skala besar. Dikatakannya bahwa pemerintah AS telah melecehkan konvensi PBB yang melarang penyiksaan para tahanan. Pernyataan itu disampaikan menanggapi tindakan pemerintah AS yang mengasingkan, menahan warga di penjara-penjara rahasia dan menyiksa tahanan. Salah satu kasus yang diungkap dalam sidang itu adalah tindakan AS yang dengan sewenang-wenang menangkap warga Irak, Afghanistan dan berbagai negara lain lalu memaksa para tahanan untuk melakukan pelecehan seksual terhadap sesama tahanan.

 

Pelecehan seksual juga dilakukan oleh para sipir penjara. Washington Post pada bulan September 2009 melaporkan, dalam rentang waktu delapan tahun jumlah kasus pelecehan seksual dan perkosaan terhadap tahanan yang melibatkan para sipir dan petugas penjara AS meningkat dua kali lipat. Lebih dari 90 persen petugas dan sipir penjara memiliki berkas pengadilan dalam kasus perkosaan dan pelecehan seksual. 40 persen diantara mereka juga terjerat kasus-kasus pidana yang lain.

 

Di penjara-penjara AS berbagai macam penyakit juga mewabah dan menjangkiti banyak tahanan. Departemen Kehakiman AS dalam laporannya menyatakan, sampai akhir tahun 2008 lebih dari 20 ribu tahanan laki-laki, dan dua ribu tahanan perempuan positif terkena virus HIV di dalam penjara. Angka itu terkait suspek yang telah menjalani tes kesehatan. Tentunya, jumlah yang sebenarnya lebih besar dari itu. Sejak tahun 2007 sampai tahun 2008, jumlah tahanan yang menderita penyakit AIDS di penjara California, Missuari dan Florida tercatat secara berurutan sebanyak 246, 169 dan 166 orang. Tahun 2007 pendeita AIDS yang meninggal dunia di penjara mencapai 130 orang.

 

Bulan Maret 2009, Lembaga Pengawas HAM melaporkan penjara-penjara di New York tidak dilengkapi dengan fasilitas kesehatan yang memadai untuk penderita AIDS. Laporan ini menambahkan bahwa para penderita AIDS tidak dipisah dari para tahanan yang lain. Masalah yang ada tidak hanya terbatas pada penderita AIDS. Sebab, di penjara-penjara itu, para tahanan dengan gangguan kejiwaan juga ditempatkan bersama para tahanan yang lain.  Fakta ini semakin menambah panjang daftar pelanggaran HAM di penjara-penjara AS. Mengingat adanya data yang menyebutkan bahwa dari sepuluh ribu tahanan enam ribu diantaranya menderita gangguan jiwa, penjara-penjara itu praktis berubah menjadi rumah sakit jiwa model baru bagi para tahanan.

 

Tanggal 10 Mei 2008, Economist melaporkan bahwa AS termasuk negara yang mengabaikan hak-hak para tahanan. Mereka yang mendekam di penjara AS tidak memperoleh sebagian hak politik dan sosial sebagai warga negara. Misalnya, di sejumlah negara bagian para tahanan tidak mendapatkan hak suara dalam pemilu. Padahal di banyak negara, pengadilan tidak menghapuskan hak para terhukum untuk memberikan suara dalam pemilu.

 

Di AS, metode eksekusi terhukum mati sering berseberangan dengan standar HAM. Sebagai contoh, dari tahun 1979 sampai 2009, sebanyak tujuh ribu 713 orang menjalani hukum mati di kursi listrik atau dengan suntikan racun. Ini artinya dalam rentang waktu tersebut, setiap tahunnya rata-rata di AS, 257 orang dieksekusi. Kisah Theresa Louis, wanita berusia 41 tahun mungkin bisa menjadi contoh dan bukti pelanggaran HAM di sana. Perempuan yang mengidap gangguan jiwa ini telah menjalani hukum mati tanggal 23 September 2010. Padahal, konvensi dan hukum internasional melarang pelaksanaan hukuman mati bagi tahanan yang mengalami gangguan jiwa. Hal itu tidak digubris oleh lembaga peradilan AS, dan eksekusi terhadap Theresa Louispun dilaksanakan. Satu pelanggaran lagi yang mengundang reaksi keras masyarakat dunia adalah penggunaan obat-obatan pembunuh binatang dalam proses eksekusi terhadap terpidana mati.(IRIB Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s